Assalamu 'Alaikum...selamat datang di blog pribadi saya...ini adalah buku harian digital yang khusus saya buat untuk suami saya...dan untuk semua pembaca pada umumnya...semoga bermanfaat... ^,^ Najmah Haura Medyani's Blog: Catatan Tentang Sulis Cinta Rasul 1# (Oleh Ust. Haydar Yahya)

Menu

Sabtu, 15 September 2012

Catatan Tentang Sulis Cinta Rasul 1# (Oleh Ust. Haydar Yahya)

 Karena banyak "CRF Baru" yang pastinya ingin tau lebih banyak tentang Sulis, maka saya akan postingkan kisah sekilas tentang Sulis. Karena lumayan panjang, maka saya akan kirimkan petikan-petikannya dengan nomor urut 1,2,3, dstnya...
Dibawah ini adalah catatan nomor 1.

“SULIS Yang Sekedarnya”
Kisah Anak Bantaran Kali
Sebuah nama yang sederhana. Sulis, begitulah ia dipanggil oleh teman-temannya juga dikeluarganya. Hanya sedikit orang yang tahu nama lengkapnya yang juga sederhana, Sulistyowati. Dilahirkan di Solo, Jawa Tengah, dari sebuah keluarga yang biasa-biasa saja tapi bahagia. Sumadi nama ayahnya dan Siti Satinem nama ibunya. Sulis adalah anak bungsu dari tiga dara bersaudara. Rina, anak pertama, Devi kedua dan Sulis pamungkasnya. Berbeda dengan dua kakaknya aku sang ibu, masa kehamilan, merawat Sulis didalam rahim, adalah masa-masa paling berat. Selama lima bulan pertama, ibunya menjadi sangat kurus, lambungnya menolak setiap makanan yang dimakannya sampai bulan ke enam masa kehamilannya. Semua beban berat itu berubah menjadi kebahagiaan yang sangat, saat kelahiran pada tengah malam jam 02.00 dini hari 23 January 1990.
Di kota Solo, di perkampungan kumuh yang menyempil di belakang stasiun kecil di bantaran kali, dengan himpitan rumah-rumah gubuk tanpa jarak, disitulah mutiara ini ditemukan. Kampung Sangkrah, namanya. Saat itu, seorang teman mengatakan, itulah kampung Bronx mengacu pada daerah hitam di bilangan kota New York di Amerika Serikat. Penghuninya campur aduk seperti semak belukar. Pertengkaran karena uang receh seringkali terjadi, bahkan sampai beradu fisik. Mabuk-mabukan minuman oplosan, perjudian kecil-kecilan jadi hiburan rutin penghuninya. Satu hal persamaan yang dimiliki penghuninya, yaitu sama sama miskin. Saat saya kunjung ke rumah Sulis pertama kali, saya mesti membungkuk untuk bisa melewati pintu rumah gubuknya yang setinggi 155 cm. Dimana kamar tidur, dimana ruang tamu, dimana dapur, tidak jelas batasnya. Toilet ? Ouh, itu barang langka bagi penduduk di bantaran kali. Rumah darurat pengungsi, begitu kira-kira rumah Sulis waktu itu.

Harga Cium Tangan Itu Rp 100.-

Penerangan rumah Sulis, menumpang listrik tetangga, Pak Gino namanya. Seorang pedagang akik (batu cincin) yang hidupnya sedikit lebih baik dari kebanyakan penduduk kampung. Sulis masih ingat, setiap pagi hari, Sulis rajin berdiri didepan rumah, menunggu Pak Gino lewat dengan Yamaha birunya. Apabila pak Gino melihat Sulis, ia langsung berhenti dan Sulis bergegas menghampirinya menyambut dengan salam cium tangan dan Pak Gino membalasnya dengan memberi Sulis uang Rp 100.-
Keadaan ini terus berlangsung bertahun-tahun. Bahkan bila Pak Gino tidak melihat Sulis, beliau mencari menanyakan, ndi Sulis ? (bahasa Jawa) Dimana Sulis ?
Sungguh, Sulis merasakan kebahagiaan dari kebaikan Pak Gino itu sampai hari ini setiap kali ia mengenangnya. Anehnya, Pak Gino begitu hanya kepada Sulis. Padahal banyak anak-anak lain, tapi pada yang lain, sikap Pak Gino biasa-biasa saja.


#to be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar