Assalamu 'Alaikum...selamat datang di blog pribadi saya...ini adalah buku harian digital yang khusus saya buat untuk suami saya...dan untuk semua pembaca pada umumnya...semoga bermanfaat... ^,^ Najmah Haura Medyani's Blog: Catatan Tentang Sulis Cinta Rasul 2# (Oleh Ust. Haydar Yahya)

Menu

Minggu, 16 September 2012

Catatan Tentang Sulis Cinta Rasul 2# (Oleh Ust. Haydar Yahya)


catatan no.2
Sungai Itu Adalah Anugrah

Toilet, adalah barang mewah di perkampungan itu. Karenanya, meski lumayan kotor, kali ditepi kampung itu merupakan anugrah bagi penghuni “Bronx” Kampung Sangkrah. Kali itu merupakan toilet bersama. Dimalam hari, “toilet” itu gelap gulita tanpa penerangan. Malam itu, Sulis membangunkan Ibunya karena sakit perut yang mendesak untuk “berhajat”. Bergegaslah ke tepian sungai. Malangnya, terpeleset jatuh kejebur kali. Sulis dan Ibu berteriak minta tolong. Untung saja, seorang pemabuk, Genjer namanya, kebetulan lewat menjadi penyelamat, menarik Sulis ketepian sungai. Lucu juga, seperti tidak terjadi apa-apa, setelah membantu Sulis, Genjer yang sempoyongan itu, begitu saja meneruskan perjalanannya dengan separuh celananya yang kuyup tanpa pamrih.

“Rumah” Itu berukuran 16 meter persegi

Sebenarnya, tempat dimana Sulis dilahirkan, sulit untuk dikatakan sebagai sebuah rumah. Bayangkan saja, luasnya tidak lebih dari 16 m persegi. Di bagian tengah disekat triplek. Satu bagian sebagai ruang tamu juga ruang keluarga dan sekaligus kamar ayah ibu. Bagian yang lain, merupakan kamar tidur bersama di kala malam, juga berfungsi sebagai dapur diwaktu siang. Bingung juga, sebegitunya keluarga ini bisa melahirkan tiga anak dara, yang kini dua diantaranya menjadi sarjana dan yang seorang dikenal sebagai Sulis Cinta rasul yang mendunia. Diruang yang multi fungsi begitu, keruan saja, sisa-sisa makanan seringkali tercecer. Akibatnya, dimalam hari, tikus-tikus menjadi akrab berkeliaran mencari serpihan sisa makanan di ruangan itu. Ujung jari Sulis yang mungil itu, sering juga diendus-endus dikrikiti tikus.

Mereka adalah Pejuang Kebanggaan Sulis

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sang Ayah bekerja sebagai sopir pribadi di siang hari dan sebagai sopir becak di malam hari. Terpaksa mesti kerja siang malam untuk mendapatkan hasil tambahan sekedarnya. Becak itupun meminjam becak tetangga kalau kebetulan nganggur tidak dipakai. Sulis masih ingat akunya, saat itu sang Ayah menderita sakit bisul di duburnya. Tetapi, tetap saja sang Ayah memaksakan diri menyopir becak. Tengah malam sekembali dari menyopir becak dengan hasil yang tidak seberapa, bisulnya pecah berdarah-darah membasahi celananya.
Sementara sang Ibu bekerja menjahit ongkosan yang diterima dari sebuah pabrik pakaian dalam. Sulis kecil terbiasa menemani sang ibu ke pabrik yang jaraknya lebih 2 km, mengantar hasil jahitan dan pulang kembali membawa seonggokan kain untuk dikerjakan dirumah. Sulis ingat benar, bagaimana ia mengagumi ayah ibunya sebagai pekerja keras. Bagaimana sang Ibu setiap hari pulang pergi ke pabrik mencari kerja, menyusuri jalan aspal yang panas berdebu, menggendong puluhan kilo kain di pundaknya dan segera mesti mengerjakannya sesampainya di rumah, tanpa pernah terdengar sedikitpun keluhannya.

#To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar